Kabupaten Bogor - Teras Cijeruk adalah Media Komunikasi Komunitas Tanah Impian di Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor

Wanita Cantik di Mata Pria

Wanita Cantik di Mata Pria
Wanita-wanita Berparas Menawan Hati

News

Back to Kabupaten Bogor

Keberhasilan Jokowi di Mata Jusuf Kalla

INFO CIJERUK
Rakyat harus Bersyukur Kalian mempunyai Presiden yang Peduli Nasib Bangsa dan Nasib Keturunan mu!

Jokowi Presiden Terhebab Sepanjangsejarah Dunia, dalam Tempo 5 Tahun Cita-cita Bung Karno dan Pak HartoTerealisasi semuanya!

Saya Saksi Hidup Sejarah Indonesia Merdeka, sejak Jokowi Berkuasa, Mafia dan Pejabat Korup Lumpuh dan Bangkrut

_Jusuf Kalla_

Menjawab Hoax - Indonesia Dikuasai Asing

INFO CIJERUK
Tenaga Asing yang Bekerja di Indonesia
  • China Menguasai Surat Utang Amerika US$ 1.15 Trilyun -> Apakah Amerika Dicaplok Oleh China?
  • Arab Investasi di China 870 Trilyun -> Apakah Rakyat China Terkencing-kencing Merasa Dijahah oleh China?
  • Amerika Investasi di Singapore 122 Trilyun -> Apakah Warga Singapore Otomatis Jadi Antek Asing?
  • Tenaga Kerja Asing yang Bekerja di Indonesia sebanyak 74.183 ribu dan 21.271 ribu bersala sari China disusul Jepang dll -> Sebagian dari Kita Sudah Terkencing-kencing Merasa Dijajah oleh China
Tenaga Kerja Kita yang Bekerja di Luar Negeri
252.000 TKI bekerja di Taiwan
81.000 TKI bekerja di China
153.000 TKI bekerja di Hongkong
16.000 TKI bekerja di Macau

Apakah Rakyat Taiwan, China, Hongkong, dan Macau merasa Dijajah oleh Indonsia

Mereka bisa bernalar dengan BENAR, Karena Mereka Bisa Membedakan Antara Bisnis Dengan Kedaulatan Negara

"DUNIA ABAD XXI tidak dipetakan lagi oleh Suku Ras dan Agama. 
Masyarakat modern sudah tidak mempermasalahkan lagi perbedaan keyakinan.
Mereka bersama-sama membangun peradaban
Di sini tidak begitu, yang didahulukan hanya kebencian karena takut berkompetisi, dan takut kalah dalam persaingan hidup.
Kemudian dibalut dengan pemahaman sempit dalam beragama"

Sumber : disalin dari gambar di atas

Hasil Survey Pasangan Rindu Unggul, Pesan Ridwan Kamil : "Jangan Lengah di Hari H"

Ridwan Kamil saat di acara halal bihalal di kediaman Oesman Sapta, pada sabtu (16/6/2018)
Cijeruk, (TerasCijeruk) - Beberapa lembaga survei menyatakan, bahwa elektabilitas pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum berada di urutan teratas jelang Pilkada Jawa Barat 2018.

Di dalam Pilkada Jabar, pasangan nomor urur 1 tersebut melawan pasangan  Hasanuddin-Anton Charliyan, pasangan Sudrajat-Ahmat Syaikhu, dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Kang Emil, betigu panggilan akrab bagi Walikota Bandung ini, mengatakan, keberadaan saksi di tiap tempat pemungutan suara (TPS) menjadi salah satu faktor penting dalam memenangkan pilkada.

Ia mengungkapkan, timnya telah menyiapkan dan melatih saksi-saksi yang akan bertugas di tiap TPS, dan berharap, upaya yang dilakukan saat ini akan memberikan hasil yang maksimal saat Pilkada.

Pemungutan dan penghitungan suara Pilkada Serentak 2018 akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018. Sedangkan rekapitulasi akan dilaksanakan pada 28 Juni 2018.

"Tinggal berdoa saja, sebagai manusia beragama kita berdoa saja agar ikhtiar ini membuahkan hasil. Tapi apapun hasilnya kita sangat iklas karena namanya takdir sudah ada yang mengatur,"  kata Cagub Jabar ini.

Sebelumnya, Hasil survei Litbang Kompas Mei 2018 menunjukkan elektabilitas pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul mencapai 40,4 persen.

Sedangkan pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi 39,1 persen responden pemilih.

Sementara itu, berdasarkan hasil survei Charta Politika Juni 2018, elektabilitas Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum berada di urutan pertama, Deddy Mizwar-Dedi Mulyani berada di urutan kedua, menjelang Pilkada Jawa Barat 2018.

Menurut survey, Elektabilitas Ridwan-UU sebesar 37,3 persen. Sementara pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi sebesar 34,5 persen. Sementara dua pasang lainnya berada di posisi ketiga dan keempat. (DE)  

Apa itu Politisi Negarawan ?

Cijeruk, (TerasCijeruk) - Mungkin Sobat akan bertanya? Apakah ada perbedaan, antara Politisi Politikus dengan Politisi Negarawan? Keduanya khan sama-sama Politisi.

Sepintas memang tidak ada bedanya, sama-sama ingin merebut kekuasaan...

Berjuang membangun Bangsa Indonesia, tidak harus melalui karir menjadi “Politisi Politikus”, yang jalannya, hanya melalui lembaga-lembaga politik yang sudah dikuasi oleh politisi-politisi yang mapan dan tetap berjuang demi kekuasaannya semata.

Seorang pencari kekuasaan (Politisi), seyogyanya mempunyai cita-cita, bahwa kekuasaan yang dicapainya kelak, menjadi alat untuk membangun Bangsa-nya sendiri, bukan bangsanya orang lain – seperti sekarang ini – Freeport contohnya.

Sementara Politisi Politikus yang ada saat ini, mereka hanya ingin mempertahankan eksistensinya dalam kelihaiannya mamanajemeni kondisi yang chaos. Ibarat orang sedang bermain selancar, jika gagal sampai di tepi, ia pun kembali terombang-ambing dalam kekacauan itu sendiri.

Kita tahu sekarang ini, Politisi Politikus hanya untuk gaya-gayaan, tidak mengena pada eksistensi peran yang seyogyanya diterapkan untuk Bangsa ini.

Oleh karenanya saya membedakan secara dikotomi, antara “Politisi Politikus” (Kucing yang jadi Politisi) dengan “Politisi Negarawan” (Anjing yang jadi Politisi)

Kondisi sekarang ini memang ibarat tembok besar yang ada didepan kita, hal ini mengingat Negara-negara Barat dan Negara-negara Timur Tengah yang sudah lebih solid, bekerja sama dengan penghianat-penghianat Bangsa ini, untuk mengombang-ambingkan ombak yang sedang dipakai selancar oleh Politisi Politikus WNI itu sendiri.

Politisi Politikus yang bermain selancar pun, dengan serta merta riang gembira, ketika jatuh dari “papan selancar-nya”, karena mereka tahu bahwa yang membuat ombak tersebut adalah teman-temannya sendiri. Begitulah seorang Politisi Politikus melihat dua kekuatan tersebut di atas, sebagai kawan.

Mengapa sebagai kawan, karena seorang penghianat melihat bangsanya sendiri adalah musuh utamanya.

Kiranya sudah cukup diskripsi tentang Politisi Politikus tersebut. Sekarang apa konkritnya ???

Tembok besar tidak dapat dilawan dengan kekuatan senjata jadul. Kini saatnya kita menggunakan kekuatan akar rumput. Kita punya budaya “Kearifan Lokal”, semua nilai-nilai lokal, tidak terlepas dari pola hidup, pola makan dan makanan yang dimakan, hingga hiburan yang akan kita nikmati.

Kekayaan kita yang berupa fisik, sudah lama dirampok. Sementara, kekayaan kita yang berupa non-fisik, seperti kebudayaan, sudah lama pula dilunturkan oleh kedua kekuatan tersebut di atas.

Jadilah Politisi Negarawan, berjuang tidak harus dari partai, atau jalur politik lainnya. Berikan pembelajaran bagi sekeliling kita, bahwa kita harus mempertahankan segala kekayaan Bangsa ini.

Bagaimana caranya?

Kita bisa belajar sendiri mengenai "Kearifan Lokal" Bangsa kita, bukan nilai-nilai Barat atau Timur Tengah yang dibungkus, seolah-seolah menjadi kebiasaan kita di masa sekarang ini.

Penulis :
Sapto Satrio Mulyo | Foto : Dok. Pribadi

Cara Memilih Presiden yang Baik dan Benar

Jakarta, (WartaMerdeka) - Presiden yang bakal memimpin Negara Indonesia atau NKRI, seyogyanya kita memilihnya tidak dengan emosi, tetapi dengan hati yang tenang dan pikiran yang logis.

Yang perlu diingat, kita pun bertanggung jawab kepada Founding Father kita dan juga Anak Cucu Kita. Sehingga memilih Presiden tidak serta merta karena kesenangan Kalah Menang, seperti kita ngeFans pada sebuah Persatuan Sepak Bola.

Presiden akan mengatur Bangsa ini selama Lima Tahun ke depan, jadi harus melihatnya dari segala aspek, antara lain : Rekam Jejaknya, Pengalamannya, Prosentase Omongan dengan Prilakunya.

Mari kita telaah satu persatu, biar kita tidak salah pilih.

1. Rekam Jejaknya
Dari sini kita diajak lebih cerdas mencari siapa sesungguhnya Calon Presiden yang akan kita pilih? Apakah dia orang yang benar-benar baik, atau Srigala berbulu Domba?
Bagaimana caranya? Sekarang melalui Dunia Maya kita dengan mudah mendapatkan berita-berita.... tapi khan banyaknya yang hoax, betul. Olehkarenanya hanya baca dan percayai Media-media yang sudah terbukti kebenarannya, bukan Media-media abal-abal, Contohnya seperti Kompas, Suara Pembaharuan (sayangnya sudah tidak ada), Detik, dll, yang keberadaan Media Tersebut jauh sebelum adanya Reformasi 98. Untuk TV ya, TVRI.

Bagaimana dengan Media yang lain? Jadikan sebagai penguat atau pelemah data yang Anda sudah dapatkan dari Media-media yang kredibel tersebut sebelumnya, sehingga Anda tahu, yang mana yang berpihak dan yang mana yang tidak berpihak. Pintarkan diri Anda sendiri.

2. Pengalamannya
Dari pengalaman seseorang dan fakta yang ada, Anda dapat melihatnya, apakah Capres tersebut kapabel untuk dijadikan seorang Pemimpin setingkat Presiden, atau baru layak menjadi Pemimpin setingkat Lingkungan Masyarakat saja.

3. Prosentase Omongan dengan Prilaku
Dari fakta yang Anda dapatkan, apakah orang tersebut (Capres yang bakal Anda pilih), sudah berbuat hal-hal yang positif untuk Bangsa ini yang berdasarkan Pancasila dan UUD'45, apakah sudah menjadi fakta konkrit, atau baru Janji-janji. Kalau baru janji-janji - lupakan Capres seperti ini.

Tidak kalah pentingnya, yang kita juga harus perhatikan adalah Prilaku Pendukungnya.

Prilaku Pendukung
Bagaimana dia mau jadi Presdiden kalau tidak bisa mengatur Pendukungnya menjadi Pendukung yang santun, karena jumlah pendukungnya jauh lebih sedikit dari Rakyat Indonesia yang kelak akan dipimpinnya. Kalau dia sudah tidak bisa mengatur para Pendukungnya, maka jelas dia tidak pantas apalagi cocok untuk jadi Presiden, lupakan Capres yang tidak bisa mengatur Pendukungnya, dengan segala alasannya.

Juga tidak boleh dilupakan. Pendukung yang memakai isu SARA, sudah pasti mereka akan menghancurkan NKRI kedepannya.

Karena kita sepakat dengan Kebhinekaan Bangsa ini, maka Prilakau Pendukung yang menggunakan isu SARA sudah jelas mereka akan menghancurkan NKRI dikemudian hari. Ingat, memilih Presiden, selain kita harus bertanggungjawab kepada Founding Father kita, juga kepada Anak Cucu kita.

Selamat Memilih Presiden yang Baik dan Benar.

Pernah saya unggah di : http://www.wartamerdeka.web.id/2018/04/cara-memilih-presiden-yang-baik-dan.html

Sapto Satrio Mulyo | Foto : Istimewa | Semoga Bermanfaat

Wanita Cerdas Hormati Pria Berpengetahuan Luas

Wanita Cerdas Hormati Pria Berpengetahuan Luas
Jendela Nusantara

Proud to be Indonesia

Proud to be Indonesia
Back to Local Wisdom
Back To Top